Kamis, 11 Oktober 2012

Hijauan makanan Ternak



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
                  Dalam manajemen budidaya ternak, pakan merupakan kebutuhan tertinggi, yaitu kurang lebih 60 % dari seluruh biaya produksi. Mengingat tingginya komponen biaya tersebut maka perlu adanya perhatian dalam penyediaan hijauan baik dari sisi kuantitas maupun kulaitas, tidak terkecuali bagi ternak Ruminansia ( sapi ) dimana pakan yang diperlukan berupa hijauan makanan ternak ( HMT ). Kebutuhan pokok konsumsi HMT untuk setiap harinya ±10% dari berat badan ternak. Dalam ransum ternak ruminansia ( sapi ), rumput lebih banyak digunakan karena selain lebih murah juga lebih mudah diperoleh. Disamping itu rumput mempunyai produksi yang lebih tinggi dan tahan terhadap tekanan defoliasi ( pemotongan dan renggutan ).
                  Sebagai upaya penyediaan pakan ternak serta untuk menjamin kontinuitas penediaannya perlu diwujudkan adanya lahan yang digunakan sebagai kebun hijauan makanan ternak dan atau sebagai padang pengembalaan. Hal ini disesuaikan dengan sosial budaya masyarakat setempat. Karena sebagaian wilayah di indonesia masih memiliki sosial budaya yang memelihara ternaknya secara ekstensif yaitu dengan cara di gembalakan dan sebagian wilayah lagi secara intensif yaitu dengan cara dikandangkan.
                  Perluasan areal dibidang peternakan dilakukan melalui pembukaan lahan HMT dengan maksud untuk menambah luas kawasan peternakan/sentra produksi ternak dengan memanfaatkan tanah kosong/tanah terlantar.
                  Kegiatan ini dimaksudkan untuk membantu peternak/kelompok peternak dalam menyediakan hiajaun makanan ternak. Hal ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan produksi dan produktifitas ternak yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan peternak.
1.2   Tujuan Dan Manfaat
a.      Tujuan PKL
1.      Mengelola lahan baru Hijauan Makanan  Ternak (HMT) di kelompok Tani Terna “ Tanduk Perkasa “
2.      Melakukan pengamatan erhadap pertumbuhan Rumput Raja ( King Grass )
b.      Manfaat PKL
1.      Mendapatkan produksi rumput yang berkualitas
2.      Menjadi rekomendasi kepada peternak sekitar untuk membudidayakan rumput yang berkualitas tinggi yakni rumput raja ( King Grass )
1.3   Identifikasi Masalah
Adapun identifikasi masalah yang diperlukan :
1.      Keadaan lokasi yakni kondisi lahan yang ada di lokasi kelompok tani ternak adalah lahan tidur.
2.      Sistem pengolahan tanah yakni tidak adanya penegetahuan yang cukup bagi peternak untuk melakukan pengolahan lahan secara baik.
3.      Produks rumput yakni belum adanya pengetahuan peternak terhadap jenis rumput yang mempunyai kualitas unggul
1.4   Rumusan Masalah
Dengan berbagai penjelasan yang dikemukakan tersebut diatas serta usaha untuk lebih mendekatkan pada fokus persoalan yang dimaksud maka penulis membuat satu pengamatan terhadap cara pengelolaan tanah dan pemilihan jenis rumput yang memiliki kualitas tinggi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.   Pengelolaan Lahan
Pengelolaan lahan merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh petani atau peternak dalam hal ini usaha mendapatkan produktifitas hijaun baik dari sisi kuantitas maupun kualitas tanaman. Pengelolaan lahan meliputi beberapa kegiatan yakni pemilihan lokasi, dimana dalam menentukan tempat atau lokasi yang hendak dipakai sebagai areal penanaman hijauan baik sebagai produksi potongan ataupun pengembalaan perlu dipertimbangkan factor-faktor kesuburan tanah dan iklim topografi yang berkenaan dengan pemupukan, komunikasi serta sumber air ( AAK 2005 )
Menurut Cardenas Juan ( 1972 ) lahan diartikan sebagai satu hamparan tanah yang dijadikan oleh masyarakat sebagai tempat atau media untuk membangun sarana dan prasarana kehidupan. Dalam pengelolaan lahan yang bertujuan untuk digunakan dalam pembukaan lahan hijauan makanan ternak ada beberapa factor yang harus diperhatikan yakni kesuburan tanah dan iklim dimana kesuburan tanah dan iklim menjamin akan menjamin kecepatan tumbuh, produktifitas, mutu dan kontinuitas hijauan. Disamping itu, tanah yang subur juga akan menjamin efisiensi pengelolaan labih lanjut.
2.2.       Hijauan Makanan Ternak
Hijauan makanan ternak pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi dua kelompok yakni kelompok rumput potongan dan rumput gembalaan. Rumput potongan adalah golongan rumput yang memenuhi persyaratan berupa produksi persatuan luas cukup tinggi, tumbuh tinggi secara  vertical dan banyak anakan dan juga responsive terhadap pemupukan, contoh adalah rumput raja.
Rumput Raja ( Pennisetum Purphoides ) adalah salah satu jenis rumput umggul yang berasal dari Afrika Tropik merupakan hasil persilangan antara dua jenis rumput unggul yaitu Pennisetum Purphoides Pennisetum typoides yang membentuk rumpun yang tingginya data mencapai 2-4 meter berbatang tebal menyerupai tanaman tebu, daunnya agak kasar dan berbulu dengan lebar 3-6 cm dan panjangnya 70-100 cm dan setiap rumpun bias mencapai 20-40 batang ( AAK,2005 )
Tanaman ini disamping produksinya tinggi ( 130 ton BS/ha/tahun ) juga kualitasnya lebih tinggi daripada rumput lapangan ( Nitis, 1990 dan Supriati, 1997 ). Rumput Raja mengandung sekitar 10 % protein kasar sedangkan rumput lapangan hanya 5-7% ( Hartadi, 1997 ). Dengan kata lain, rumput raja merupakan rumput unggul, produktifitas tinggi juga disukai oleh ternak sapid an perawatannya mudah.
Penanaman rumput raja menggunakan stek batang yang cukup tua dapat juga dengan pols ( sobekan rumpun ) dan waktu yang tepat untuk penanaman adalah pada musim hujan.
Rumput raja dapat tumbuh pada daerah bercurah hujan 1.000 mm/tahun atau bercurah hujan yang merata sepanjang tahun. Jenis rumput ini tumbuh baik pada tanah yang berat dengan kemampuan Manahan air yang tinggi. Dengan demikian, sebagai rumput raja yang juga dikenal dengan King Grass  dapat berfungsi sebagai penahan erosi di tanah yang miring ( AAK, 2005 ).



BAB III
TEKNIK PELAKSANAAN
3.1.   Teknik dan Waktu Pelaksanaan
               Pelaksanaan kegiatan praktek kerja lapangan di kelompok tani Ternak                     “ Tanduk Perkasa “ di Desa Mootinelo, Kecamatan Kwandang, Kabupaten Gorontalo Utara selama 3 bulan terhitung dari tanggal 06 Maret 06 Juni 2007.
3.2.    Alat Dan Bahan
          Alat yang digunakan dalam kegiatan adalah :
1.      Alat tulis menulis
2.      Alat Bajak
3.      Alat pemotong ( parang / Sabele )
4.      Alat ukur (meter)
5.      Cangkul
6.      Camera Digital
Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan PKL yaitu :
1.      Bibit rumput raja ( King Grass )
2.      Pupuk
3.3.   Metode Yang Digunakan
Metode yang dipakai dalam Praktek Kerja Lapangan ini adalah Observasi dan partisipasi Aktif yang meliputi :
1.      Wawancara dengan masyarakat sekitar lokasi PKL tentang cara mereka mengolah lahannya.
2.      Melakukan pengolahan lahan yang mulai dari pembersihan lahan, pembajakan, penggaruan.
3.      Mengukur produksi tanaman dengan waktu 45 dan 90 hari.
3.4.   Obyek Yang Dimati
Obyek yang diamati dalam pelaksanaan PKL ini adalah :
1.      Pengolahan Tanah
2.      Produksi Tanaman



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.   Pengolahan Lahan
Pada umumnya untuk tanah tanpa irigasi, pengolahan tanah dilakukan pada akhir musim kemarau. Hal ini dengan pertimbangan bahwa :
-          Penanaman bias dilakukan pada awal musim penghujanan dengan frekuensi 3-4 hari sekali. Frekuensi tersebut sangat sesuai untuk pertumbuhan tanaman, lebih-lebih biji, sebab pertumbuhan awal sangat peka terhadap pengaruh-pengaruh luar, terutama keadaan suhu dan air.
-          Jarak yang terlampau lama antara pegolahan dan penanaman dapat menyebabkan tanah yang sudah diolah memadat kembali.
Tahap-tahap pengolahan yang baik meliputi Land-clearing, pembajakan dan penggaruan. Namun hal ini kesemuanya tergantung pula kepada kondisi tanah setempat, jenis tanaman yang hendak ditanam, serta bahan penanaman yang dipergunakan.
A.      Membersihkan Areal ( Land-clearing )
Land-clearing bermaksud membersihkan areal terhadap pepohonan, semak-semak dan alang-alang atau tumbuh-tumbuhan lainnya ( AAK.2005 ).
Pada hari pertama hal yang dilakukan adalah membersihkan lahan dimana tujuan dari pembersihan ini adalah untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu yang bias membuat hijaun terganggu pertumbuhannya. Dalam pembersihan ini ada dua cara yang dilakukan oleh petani atau peternak untuk membersihkan lahan yakni dengan cara memaras atau memotong-motong rumput, dan cara kedua adalah dengan menggunakan zat kimia yakni berupa cairan pestisida dimana petani menyemprotkan cairan ini ketanaman pengganggu. Hal ini dilakukan untuk mempercepat dan memudahkan dalam proses pembersihan karena tanaman yang disemprot dengan cairan ini bisa lagsung kering dan mati walaupun cara ini bisa mempengaruhi unsure hara dalam tanah.
B.      Pembajakan ( Ploughing )
Pembajakan bertujuan untuk memecah lapisan-lapisan tanah menjadi bongkah-bongkah, sehingga pengemburan selanjutnya lebih muda dilakukan. Kemudian memaksakan tanah sebab dengan membalik lapisan tanah  dengan membiarkan beberapa hari sebelum digemburkan, maka proses mineralisasi bahan-bahan organic akan berlangsung lebih cepat ( AAK.2005 ). Pada minggu ke 2 hal yang dilakukan adalah membaak tanah yang akan ditanami hijauan. Pembajakan ini ada dua cara juga yang digunakan oleh petani atau peternak dimana cara yang pertama adalah dengan pembajakan tradisional yakni petani menggunakan sapi untuk menarik bajak dalam membajak tanah. Cara kedua adalah dengan cara modern yakni petani menggunakan mesin Tractor untuk mengolah tanah, pada minggu kedua ini setelah proses pembajakan petani langsung memberikan kapur untuk tujuan menormalkan PH tanah.
C.       Penggaruan ( Harrowing )
            Penggaruan atau pengemburan bertujuan menghancurkan bogkahan-bongkahan besar menjadi struktur lemah dan juga sekaligus membersihkan sisa-sisa perakaran tumbuh-tumbuhan liar.
                        Bila direncanakan hendak dilakukan pemupukan kembali, baik dilakukan dengan menggunakan pupuk organic ataupun anorganik sebaiknya pemupukan ini diberikan sebelum penggemburan, sehingga pada saat-saat penggemburan berlangsung pupuk dapat teraduk secara merata pada lapisan olah. Pemupukan awal ini sangat penting untuk meransang perkembangan akar yang lebih dalam dan luas ( AKK.2005 )
D.      Pembuatan Guludan
Dimana dalam pembuatan guludan, teras dan lain-lain disesuaikan dengan kemiringan lahan berdasarkan hasil berdasarkan hasil desain.
4.2.   Produksi Tanaman
4.2.1.      Pengukuran Tinggi Tanaman, Panjang Tanaman dan Jumlah Tunas
Produksi tanaman dengan jarak tanam 50 x 50 cm yaitu :
1.   Tinggi tanaman
Adapun rata-rata tinggi tanaman dari 20 tanaman yang diukur dapat dilihat pada table 1.
Table 1. Hasil Pengukuran Tinggi Tanaman
Hari
Tinggi Defoliasi ( cm )

Rata-rata tinggi tanaman ( cm)

45
10
156
90
10
164
                  Cara pengukuran tinggi tanaman adalah dengan mengukur tanaman yang paling tinggi.

                  Pada table diatas terlihat bahwa rata-rata produksi tinggi tanaman pada hari ke 45 adalah 156 cm pada defoliasi 10 cm. sedangkan rata-rata produksi tinggi tanaman pada hari ke 90 adalah 164 cm pada defoliasi yang sama yakni 10 cm.
                  Dari hasil diatas bisa kita lihat bahwa semakin lama dan semakin berulang di defoliasi tinggi tanaman akan menghasilkan bahan segar yang tinggi pula baik produksi batang maupun produksi daun ( Mukhtar, 2005 ).            
2.   Panjang Tanaman
                  Adapun rata-rata panjang tanaman dari 20 tanaman yang diukur dapat dilihat pada table 2.
Table 2. hasil pengukuran panjang tanaman pada lahan dengan defoliasi 10 cm.
Hari
Tinggi Defoliasi ( cm )

Rata-rata tinggi tanaman ( cm)

45
10
190,89
90
10
199,65
                  Cara pengukuran panjang tanaman adalah dengan cara menegakkan semua tanaman kemudian mengukur yang panjang. ( Mukhar, 2005 )

                  Pada table diatas terlihat bahwa rata-rata produksi panjang tanaman pada hari ke 45 adalah 190,89 cm pada defoliasi 10 cm. sedangkann rata-rata produksi panjang tanaman pada hari ke 90 secara berurut adalah 199,65 cm pada defoliasi yang sama yakni 10 cm.
                  Panjang tanaman merupakan salah satu juga factor dalam melihat produksi tanaman dimana semakin panjang tanaman akan menghasilkan bahan segar yang tinggi pula baik produksi batang maupun daun ( Mukhtar,2005 ).
3.   Jumlah Tunas
                  Adapun rata-rata jumlah tunas dari 20 batang yang dihitung dapat dilihat pada table 3.
      Table 3. hasil perhitungan jumlah tunas tanaman pada lahan
Hari
Tinggi Defoliasi ( cm )

Rata-rata tinggi tanaman ( cm)

45
10
13
90
10
13
                  Cara menghitung jumlah tuntas adalah dengan menghitung jumlah tunas baru yang tumbuh baik pada anakan maupun yang membentuk percabangan.

                  Pada table diatas terlihat bahwa rata-rata produksi jumlah tunas tanaman pada hari ke 45 adalah 13 batang pada defoliasi 10 cm. sedangkan rata-rata produksi jumlah tuntas tanaman pada hari ke 90 adalah 13 batang. Disini bisa kita lihat bahwa perbedaan antara defoliasi hari ke 45 dan 90 tidak mengalami perubahan .
4.2.2.      Produksi Berat Segar
                      Adapun rata-rata produksi bahan segar dari 20 tanaman dapat dilihat pada table 4.
      Table 4. hasil penimbangan produksi bahan segar
Hari
Tinggi Defoliasi ( cm )

Rata-rata tinggi tanaman ( cm)

45
10
550
90
10
620
Jumlah
1170
                      Pada tabel diatas terlihat bahwa rata-rata produksi bahan segar tanaman ada hari ke 45 adalah 550 gram pada defoliasi 10 cm. sedangkan rata-rata produksi bahan segar tanaman pada hari ke 90 adalah  620 gram pada defoliasi yang sama yakni 10 cm.
                      Melalui perbandingan hasil produksi ini menunjukan bahwa peningkatan jumlah produksi akan dipengaruhi oleh banyaknya kita melakukan defoliasi. Jadi jumlah produksi hijauan adalah 4680 gram/1m2/3 bulan atau bisa mencapai ton/hectare/tahun.



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
                  Dari hasil pengolahan lahan dan pengolahan produksi tanaman yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa rata-rata tinggi tanaman, panjang tanaman dan jumlah tunas pada pemotongan hari ke 45 adalah 156 cm, 190,89 cm dan 13 batang dan hari ke 90 adalah 164 cm, 199,65 cm dan 13 batang. Serta produksi bahan segar selama 3 bulan ( 90 hari ) adalah 1170 gram.
5.2. Saran
1.        Dalam menghasilkan produksi tanaman yang optimal disarankan kepada peternak untuk memperhatikan cara pengolahan lahan
2.        Petani harus mengetahui perkembangan teknologi pertanian yang lebih modern sehingga memudahkan petani untuk mendapatkan produksi tanaman yang optimal.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Followers